•
Admin
Menimbang Ulang Peran BoP: Catatan Kritis dari Diskusi Publik PK IMM AR Fachruddin antara Formalitas Institusi dan Solusi Konflik Nyata
Diskusi publik dengan tema "Menakar Urgensi Board of Peace: Antara Formalitas Institusi & Solusi Konflik Nyata" diselenggarakan oleh PK IMM AR Fachruddin UM Purworejo sebagai bagian dari Program Kerja Rencana Tindak Lanjut (RTL). Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis peran Board of Peace (BoP) sebagai institusi perdamaian global, sekaligus membedah kesenjangan antara idealisme formal dan realitas konflik yang terus terjadi di berbagai belahan dunia, khususnya Palestina. Acara berlangsung pada Minggu, 5 April 2026, mulai pukul 13.00 hingga 15.00 WIB, bertempat di Ruang Seminar Kampus Timur UMPWR, dan dihadiri oleh kader baru RTL, pengurus PK IMM AR Fachruddin, delegasi HIMA, ORTOM, KOORKOM, UKM, serta perwakilan dari PC IMM Purworejo.
Acara dibuka dengan laporan ketua panitia oleh IMMawati Seikha Najla, yang menyampaikan ucapan terima kasih atas partisipasi seluruh peserta dan berharap diskusi ini tidak hanya berhenti pada pelaksanaan hari itu, tetapi terus berlanjut di tempat-tempat lain sebagai gerakan kolektif mahasiswa dalam mengawal isu perdamaian global. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Ketua Umum PK IMM AR Fachruddin atau perwakilannya, dilanjutkan dengan sambutan meriah dari Ketua Koordinator Komisariat IMM UM Purworejo, IMMawan Revo Bagus Ardana. Dalam sambutannya, Revo menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh diam melihat kondisi Board of Peace yang paradoksal, di mana nyawa terus melayang sementara ekonomi Indonesia dan dunia dirusak oleh aktor-aktor tidak bertanggung jawab seperti jaringan zionis. Ia mengajak seluruh peserta untuk terus menyuarakan kebenaran dan menjadi agen perubahan sejati, sekaligus secara resmi membuka diskusi publik tersebut. Memasuki acara inti, moderator IMMawati Rahma Ameliya Fahrisa memandu jalannya diskusi dengan memberikan pengantar singkat mengenai konsep Board of Peace, lalu memantik peserta untuk menyampaikan argumen serta pertanyaan kritis. Puncak acara adalah sesi materi interaktif selama kurang lebih 60 menit oleh pemateri Riko Ardi Viantoro, S.Pd. Beliau memaparkan secara sistematis: pertama, pemahaman konsep BoP yang mencakup tujuan ideal seperti mencegah konflik, menjamin keadilan, menjadi mediator netral, dan menjaga stabilitas global. Kedua, realitas di lapangan yang justru menunjukkan formalitas institusi, dominasi politik negara adidaya, serta minimnya dampak nyata terhadap penyelesaian konflik, termasuk di Palestina. Pemateri menjelaskan bahwa total terdapat 28 negara yang tergabung dalam mekanisme BoP, termasuk Indonesia, namun struktur yang timpang membuat keputusan seringkali menguntungkan pihak penjajah.
Lebih jauh, beliau mengupas akar permasalahan dari perspektif dekolonisasi, yaitu adanya pihak colonizer yang mendirikan negara di atas wilayah yang sudah dihuni oleh freedom fighter. Kronologi dimulai sejak deklarasi Balfour (1916–1920-an), permukiman awal, pendirian negara Israel pada 1948, hingga konsekuensi perluasan wilayah yang tidak pernah berhenti. Pemateri juga membedakan secara tajam realitas Tepi Barat dan Jalur Gaza sebagai dua wilayah dengan dinamika penjajahan yang berbeda namun sama-sama tragis. Pertanyaan kritis yang dilontarkan kepada peserta antara lain: apakah lembaga perdamaian global saat ini benar-benar netral? mengapa konflik tetap terjadi meskipun banyak forum perdamaian? apakah solusi konflik harus selalu melalui institusi formal? bagaimana peran strategis Indonesia dalam isu perdamaian global? serta apa kontribusi nyata yang bisa dilakukan mahasiswa? Pemateri dengan tegas menyampaikan bahwa konflik yang terjadi bukanlah perang agama, melainkan ambisi Amerika Serikat untuk menguasai sumber daya minyak di Timur Tengah serta proyeksi "The Greater Israel" yang menjadi agenda tersembunyi di balik BoP. Beliau menekankan bahwa BoP saat ini hanya memberikan ilusi perdamaian dengan legitimasi atas pelanggaran hukum internasional, sehingga mahasiswa wajib bersikap sebagai agen kritis, agen perubahan, dan agen perdamaian yang tidak diam terhadap ketidakadilan. Setelah sesi materi,
moderator memberikan kesempatan kepada dua peserta untuk mengajukan pertanyaan yang kemudian dijawab secara lugas oleh pemateri, menciptakan dinamika diskusi yang hangat dan kritis.
Acara ditutup oleh moderator setelah seluruh rangkaian diskusi berjalan dengan lancar dan interaktif. Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyerahkan sertifikat kepada pemateri Riko Ardi Viantoro, S.Pd. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta, panitia, dan tamu undangan. Diskusi publik ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang akademik semata, tetapi menjadi momentum lahirnya komitmen nyata dari mahasiswa Muhammadiyah Purworejo untuk terus mengawal isu perdamaian global, mengkritisi institusi-institusi formal yang kehilangan keberpihakan, serta memperjuangkan solusi konflik yang berpihak pada keadilan dan kemanusiaan.
Penulis: Tim MEDKOM IMM PK AR Fachrudin UMPWR
Acara dibuka dengan laporan ketua panitia oleh IMMawati Seikha Najla, yang menyampaikan ucapan terima kasih atas partisipasi seluruh peserta dan berharap diskusi ini tidak hanya berhenti pada pelaksanaan hari itu, tetapi terus berlanjut di tempat-tempat lain sebagai gerakan kolektif mahasiswa dalam mengawal isu perdamaian global. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Ketua Umum PK IMM AR Fachruddin atau perwakilannya, dilanjutkan dengan sambutan meriah dari Ketua Koordinator Komisariat IMM UM Purworejo, IMMawan Revo Bagus Ardana. Dalam sambutannya, Revo menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh diam melihat kondisi Board of Peace yang paradoksal, di mana nyawa terus melayang sementara ekonomi Indonesia dan dunia dirusak oleh aktor-aktor tidak bertanggung jawab seperti jaringan zionis. Ia mengajak seluruh peserta untuk terus menyuarakan kebenaran dan menjadi agen perubahan sejati, sekaligus secara resmi membuka diskusi publik tersebut. Memasuki acara inti, moderator IMMawati Rahma Ameliya Fahrisa memandu jalannya diskusi dengan memberikan pengantar singkat mengenai konsep Board of Peace, lalu memantik peserta untuk menyampaikan argumen serta pertanyaan kritis. Puncak acara adalah sesi materi interaktif selama kurang lebih 60 menit oleh pemateri Riko Ardi Viantoro, S.Pd. Beliau memaparkan secara sistematis: pertama, pemahaman konsep BoP yang mencakup tujuan ideal seperti mencegah konflik, menjamin keadilan, menjadi mediator netral, dan menjaga stabilitas global. Kedua, realitas di lapangan yang justru menunjukkan formalitas institusi, dominasi politik negara adidaya, serta minimnya dampak nyata terhadap penyelesaian konflik, termasuk di Palestina. Pemateri menjelaskan bahwa total terdapat 28 negara yang tergabung dalam mekanisme BoP, termasuk Indonesia, namun struktur yang timpang membuat keputusan seringkali menguntungkan pihak penjajah.
Lebih jauh, beliau mengupas akar permasalahan dari perspektif dekolonisasi, yaitu adanya pihak colonizer yang mendirikan negara di atas wilayah yang sudah dihuni oleh freedom fighter. Kronologi dimulai sejak deklarasi Balfour (1916–1920-an), permukiman awal, pendirian negara Israel pada 1948, hingga konsekuensi perluasan wilayah yang tidak pernah berhenti. Pemateri juga membedakan secara tajam realitas Tepi Barat dan Jalur Gaza sebagai dua wilayah dengan dinamika penjajahan yang berbeda namun sama-sama tragis. Pertanyaan kritis yang dilontarkan kepada peserta antara lain: apakah lembaga perdamaian global saat ini benar-benar netral? mengapa konflik tetap terjadi meskipun banyak forum perdamaian? apakah solusi konflik harus selalu melalui institusi formal? bagaimana peran strategis Indonesia dalam isu perdamaian global? serta apa kontribusi nyata yang bisa dilakukan mahasiswa? Pemateri dengan tegas menyampaikan bahwa konflik yang terjadi bukanlah perang agama, melainkan ambisi Amerika Serikat untuk menguasai sumber daya minyak di Timur Tengah serta proyeksi "The Greater Israel" yang menjadi agenda tersembunyi di balik BoP. Beliau menekankan bahwa BoP saat ini hanya memberikan ilusi perdamaian dengan legitimasi atas pelanggaran hukum internasional, sehingga mahasiswa wajib bersikap sebagai agen kritis, agen perubahan, dan agen perdamaian yang tidak diam terhadap ketidakadilan. Setelah sesi materi,
moderator memberikan kesempatan kepada dua peserta untuk mengajukan pertanyaan yang kemudian dijawab secara lugas oleh pemateri, menciptakan dinamika diskusi yang hangat dan kritis.
Acara ditutup oleh moderator setelah seluruh rangkaian diskusi berjalan dengan lancar dan interaktif. Sebagai bentuk apresiasi, panitia menyerahkan sertifikat kepada pemateri Riko Ardi Viantoro, S.Pd. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta, panitia, dan tamu undangan. Diskusi publik ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang akademik semata, tetapi menjadi momentum lahirnya komitmen nyata dari mahasiswa Muhammadiyah Purworejo untuk terus mengawal isu perdamaian global, mengkritisi institusi-institusi formal yang kehilangan keberpihakan, serta memperjuangkan solusi konflik yang berpihak pada keadilan dan kemanusiaan.
Penulis: Tim MEDKOM IMM PK AR Fachrudin UMPWR